Friday, November 2, 2007

Aku tetap mengeluh

Aku sadar nilai studiku sangat menurun, dan herannya aku tidak sedih, aku mulai bisa untuk tidak sedih terhadap apa yang tidak aku capai, aku bingung apakah perubahanku ini merupakan hal yang positif atau negatif, karena saat aku "tidak merasa sedih" ketika tidak mendapatkan harapanku aku mulai selalu bersikap santai dan lebih suka mengikuti alur kehidupanku, tanpa ada kemauan keras merubah ataupun berubah, karena pikirannku berkata bahwa apapun yang aku dapatkan tidak akan merubah situasi hatiku, saat aku meraih apa yang aku usahakan belum tentu membuat aku bahagia, dan saat aku meraih kegagalan tidak selalu membuat aku bersedih, aku kehilangan selera untuk menikmati kenikmatan dunia, aku kehilangan selera untuk menikmati sebuah keberhasilan.
Aku takut keberhasilan akan membuat aku congkak, aku lebih nyaman dengan kesedihan, karena kesedihan selalu membuatku merasa paling dibawah, membuat aku merasa bahwa aku tidak sombong, yang membuat aku merasa tidak berdosa, hal ini membuat aku merasa tenang sekali, dan akhiranya membuat aku merasa dekat dengan Tuhanku, meski disaat aku benar benar sedih aku tetap mengeluh!!!

Tuesday, October 30, 2007

Aku lupa!!!

Aku lupa tujuanku untuk bikin blog, yaitu mencatat perkembangan positif yang aku dapatkan perharinya.

Wednesday, October 24, 2007

Ketika ditanya "Siapkah anda menikah?"

Saat kita dihadapkan oleh pertanyaan seperti itu, kita hanya dihadapkan oleh dua jawaban yaitu 'iya' atau 'tidak(belum)', dengan berbagai macam alasan yang menguatkan jawaban kita.
Sebagai wanita merasa sangat risih untuk mengucap kata 'iya' adalah hal yang tidak pernah punah dari zaman dahulu sampai sekarang, jelas, karena rasa malu adalah tabiat asli seorang wanita, disebut asli karena kenyataannya ada juga wanita yang tidak sungkan mengatakan 'iya' dengan lugas beserta rasa pede yang 'wah'.
Sebagai Lelaki penuh pertimbangan dalam memutuskan untuk mengataka 'iya' adalah hal yang wajib dilakukan, betapa tidak, karena lelaki tersebut akan mengemban tugas yang berat dalam menghidupi keluarganya kelak, namun ada juga yang malah lepas tanggung jawab dan membiarkan keluarganya berjalan sendiri bahkan hancur ditelan kekecewaan.
Mengapa yang di tanyakan harus kesiapannya, kenapa tidak mengatakan "Maukah anda menikah?"
Mungkin karena pertanyaan "Siapkah anda menikah" telah mencakup rasa mau, tanpa mencakup rasa siap, karena kata 'Siap' memiliki pesan tersendiri bahwa menikah itu tidak mudah, butuh persiapan, lahir maupun bathin, moril maupun materi, kalo masalah mau, itu sudah sewajarnya, karena menikah adalah salah satu kebutuhan manusia.
Usia bukan harga mati,
pernikahan dinipun laris
Situasi bukan alasan,
tidak sedikit yang melejit setelah menikah
Ekonomi bukan harga mati,
orang kayapun cerai
Orang tua bukan penghalang,
jika kita mampu meyakinkan bahwa kita siap menikah
Karena hidup itu pilihan, benar benar pilihan...
kita bisa memilih apakah kita mau jadi pecundang atau penuh tanggung jawab
kita bisa memilih apakah kita ingin berhasil atau tidak
karena masing-masing punya kekuatan
karena masing-masing punya keinginan
karena hidup benar benar pilihan, iya pilihan
Sepakat???
jadi...
"Siapkan anda menikah?"

Sunday, October 21, 2007

Saturday, October 20, 2007

Ku harap aku berubah.

Akhirnya hari itu datang juga, dengan setengah hati aku penuhi undangannya, meskipun harus melawan kata hatiku, minimal kutenangkan hatiku dengan mantra "jangan manja", kuhadapi pertemuan dengannya dengan pura-pura grogi, karena aku sama sekali tidak grogi, padahal sewajarnya jika seseorang menghadapi pertemuan seperti itu memang sepantasnya harus grogi, bagaiman aku harus grogi jika pertemuan ini sama sekali tidak aku sukai, karena tekhnisnya tidak seperti yang aku harapkan.
Akupun tidak bisa mengungkapkan apa yang seharusnya aku katakan kepadanya, aku malu, malu pada diriku sendiri, sebab aku selalu malu jika menemui diriku pasa posisi sangat egois, dan terkesan menyulitkan orang lain, dan aku tahu bahwa semua keinginanku itu pasti akan menyulitkannya.
Mungkin sebagian orang akan beranggapan bahwa aku tidak memikirkan kepentinganku sendiri, tapi yang kurasa justru sebaliknya, pada saat aku mendapatkan keinginanku dengan menyulitkan orang lain maka rasa tidak nyaman akan terus mengikutiku, dan aku sangat tidak suka berada pada posisi seperti ini, jadi akan lebih nyaman dengan membiarkan mewujudkan keinginannya.
Karena yang kutahu, Tuhanku tidak akan pernah menyia-nyiakan pengorbananku.
Yang sangat penting dan paling kuharapkan darinya hanya: "Semoga dia mampu menuntunku menemui Tuhannku" tuhan yang aku hidup karenaNya, tuhan yang karenaNya aku ringan melakukan segala coba.

Wednesday, October 17, 2007

Mencoba untuk bahagia

Aku gak tau aku ini termasuk kategori manusia apa, manusia kurang bersyukur ato apalah karena dengan segala kemudahan yang diberikan Allah aku selalu saja masih merasa sedih, dan anehnya aku gak tau penyebabnya apa, akhir-akhir ini aku menjadi orang yang sangat gampang menangis, dengan di beri sedikit masalah saja air mataku sudah meleleh, aku seperti merindukan sesuatu yang tidak mampu aku temukan hal apa yang aku rindukan.

Ada luka di hatiku, aku sesak, gusar mencari pemulihnya
bahagia, tolong jangan pergi...
jika memang bahagia itu sulit brsamaku
mencoba untuk seperti merasakannya saja sudah cukup
takkan putus aku mencari
meski tiap jalan yang kulalui tidak bisa memastikan
apakah aku menjemput bahagia atau sebaliknya

Kulihat sekelilingku yang selalu mencoba menawarkan sayang, tapi tak satupun mampu mengembalikan aku pada diriku yang semula, aku tidak tau harus menuntut siapa, aku tidak tau harus bertanya pada siapa, Meski aku juga tak lupa padamu Ya Rabby, slalu ku panjatkan do'a, ku lakoni alur ceritamu karena ku percaya engkau tak akan pernah membuat ku kecewa.