Tuesday, October 30, 2007

Aku lupa!!!

Aku lupa tujuanku untuk bikin blog, yaitu mencatat perkembangan positif yang aku dapatkan perharinya.

Wednesday, October 24, 2007

Ketika ditanya "Siapkah anda menikah?"

Saat kita dihadapkan oleh pertanyaan seperti itu, kita hanya dihadapkan oleh dua jawaban yaitu 'iya' atau 'tidak(belum)', dengan berbagai macam alasan yang menguatkan jawaban kita.
Sebagai wanita merasa sangat risih untuk mengucap kata 'iya' adalah hal yang tidak pernah punah dari zaman dahulu sampai sekarang, jelas, karena rasa malu adalah tabiat asli seorang wanita, disebut asli karena kenyataannya ada juga wanita yang tidak sungkan mengatakan 'iya' dengan lugas beserta rasa pede yang 'wah'.
Sebagai Lelaki penuh pertimbangan dalam memutuskan untuk mengataka 'iya' adalah hal yang wajib dilakukan, betapa tidak, karena lelaki tersebut akan mengemban tugas yang berat dalam menghidupi keluarganya kelak, namun ada juga yang malah lepas tanggung jawab dan membiarkan keluarganya berjalan sendiri bahkan hancur ditelan kekecewaan.
Mengapa yang di tanyakan harus kesiapannya, kenapa tidak mengatakan "Maukah anda menikah?"
Mungkin karena pertanyaan "Siapkah anda menikah" telah mencakup rasa mau, tanpa mencakup rasa siap, karena kata 'Siap' memiliki pesan tersendiri bahwa menikah itu tidak mudah, butuh persiapan, lahir maupun bathin, moril maupun materi, kalo masalah mau, itu sudah sewajarnya, karena menikah adalah salah satu kebutuhan manusia.
Usia bukan harga mati,
pernikahan dinipun laris
Situasi bukan alasan,
tidak sedikit yang melejit setelah menikah
Ekonomi bukan harga mati,
orang kayapun cerai
Orang tua bukan penghalang,
jika kita mampu meyakinkan bahwa kita siap menikah
Karena hidup itu pilihan, benar benar pilihan...
kita bisa memilih apakah kita mau jadi pecundang atau penuh tanggung jawab
kita bisa memilih apakah kita ingin berhasil atau tidak
karena masing-masing punya kekuatan
karena masing-masing punya keinginan
karena hidup benar benar pilihan, iya pilihan
Sepakat???
jadi...
"Siapkan anda menikah?"

Sunday, October 21, 2007

Saturday, October 20, 2007

Ku harap aku berubah.

Akhirnya hari itu datang juga, dengan setengah hati aku penuhi undangannya, meskipun harus melawan kata hatiku, minimal kutenangkan hatiku dengan mantra "jangan manja", kuhadapi pertemuan dengannya dengan pura-pura grogi, karena aku sama sekali tidak grogi, padahal sewajarnya jika seseorang menghadapi pertemuan seperti itu memang sepantasnya harus grogi, bagaiman aku harus grogi jika pertemuan ini sama sekali tidak aku sukai, karena tekhnisnya tidak seperti yang aku harapkan.
Akupun tidak bisa mengungkapkan apa yang seharusnya aku katakan kepadanya, aku malu, malu pada diriku sendiri, sebab aku selalu malu jika menemui diriku pasa posisi sangat egois, dan terkesan menyulitkan orang lain, dan aku tahu bahwa semua keinginanku itu pasti akan menyulitkannya.
Mungkin sebagian orang akan beranggapan bahwa aku tidak memikirkan kepentinganku sendiri, tapi yang kurasa justru sebaliknya, pada saat aku mendapatkan keinginanku dengan menyulitkan orang lain maka rasa tidak nyaman akan terus mengikutiku, dan aku sangat tidak suka berada pada posisi seperti ini, jadi akan lebih nyaman dengan membiarkan mewujudkan keinginannya.
Karena yang kutahu, Tuhanku tidak akan pernah menyia-nyiakan pengorbananku.
Yang sangat penting dan paling kuharapkan darinya hanya: "Semoga dia mampu menuntunku menemui Tuhannku" tuhan yang aku hidup karenaNya, tuhan yang karenaNya aku ringan melakukan segala coba.

Wednesday, October 17, 2007

Mencoba untuk bahagia

Aku gak tau aku ini termasuk kategori manusia apa, manusia kurang bersyukur ato apalah karena dengan segala kemudahan yang diberikan Allah aku selalu saja masih merasa sedih, dan anehnya aku gak tau penyebabnya apa, akhir-akhir ini aku menjadi orang yang sangat gampang menangis, dengan di beri sedikit masalah saja air mataku sudah meleleh, aku seperti merindukan sesuatu yang tidak mampu aku temukan hal apa yang aku rindukan.

Ada luka di hatiku, aku sesak, gusar mencari pemulihnya
bahagia, tolong jangan pergi...
jika memang bahagia itu sulit brsamaku
mencoba untuk seperti merasakannya saja sudah cukup
takkan putus aku mencari
meski tiap jalan yang kulalui tidak bisa memastikan
apakah aku menjemput bahagia atau sebaliknya

Kulihat sekelilingku yang selalu mencoba menawarkan sayang, tapi tak satupun mampu mengembalikan aku pada diriku yang semula, aku tidak tau harus menuntut siapa, aku tidak tau harus bertanya pada siapa, Meski aku juga tak lupa padamu Ya Rabby, slalu ku panjatkan do'a, ku lakoni alur ceritamu karena ku percaya engkau tak akan pernah membuat ku kecewa.

Sunday, October 14, 2007

Aku, diriku, dan saya ingin membahagiakan kalian

Jauh sebelum aku tau bahwa membahagiakan kalian adalah suatu ibadah, telah terbesik di dalam hatiku bahwa begitu inginnya aku membahagiakan kalian, perih rasanya jika mengetahui kalian bersedih, tapi apalah daya kadang egoku pun merajai sulit aku taklukkan, saat itulah kata yang terucap tak terasa telah menggores hati kalian atau laku yang kubuat telah menyinggung perasaan kalian, mengertilah bahwa diriku, aku dan saya tidak pernah bersengaja melakukannya.
Ada yang bilang bahwa tidak semua orang yang mempunyai keinginan maka diberi pula kesempatan dan sebaliknya, bahkan ada yang tidak diberi kedua-duanya, taukah... bahwa jauh di dalam hatiku ada keinginan yang begitu dahsyat untuk membuat kalian bahagia, menghapus peluh selama membesarkan kami, sadarkah bahwa pada tiap tetes kasih sayang yang kalian berikan semakin menambah gebunya keinginan itu.
Hati selalu bertanya mampukah... sempatkah... aku membuat kalian merasa benar-benar bahagia...?
Aku tidak menuntut bahwa harus aku yang membuat kalian bahagia, harus aku yang membuat kalian tertawa, tidak!!! karena jika itu terjadi bisa saja kalian menganggap hanya aku yang mencintai kalian, hanya aku yang menghargai perjuangan kalian, tidak!!! kalian harus bahagia dengan apapun dan siapapun, aku ingin kalian bahagia meski hidup dengan kesusahan, merasa damai meski hidup dengan bahaya, merasa puas meski orang lain merampas hak-hak kalian, aku ingin hati kalian selalu tenang oleh pelukan kasih sayang sang Maha Penyayang, aku ingin hati kalian bersih dari segala noda-noda hidup karena terbasuh oleh air suci sang Maha Pengampun, karena di hatilah kebahagiaan itu bertahta.
Hanya do'a yang mampu kuucap semoga kalian bahagia meski berada dalam kesedihan, semoga merasa lapang walau berada dalam kesempitan, semoga merasa cukup meski berada dalam kekurangan, semoga kalian selalu dalam cinta Ilahi Rabby.

Saturday, October 13, 2007

Sajak muhasabah menghitung usia

POHON SIDRA
angin masa menerpa pohon sidra
daun usiaku pun gugur satu per satu
di bawah pohon sidra
kuhitung daun usia yang tersisa
tinggal duapuluh lembar saja lagi
aku termangu
menatap pohon sidraku
batangnya penuh lubang kealpaan
dahannya meranggas digerus maksiat
buahnya berbisul dosa
akarnya tercerabut
bengkalai amanah
di bawah pohon sidra
malaikat memungut daun usiaku
empat puluh lembar daun usia
penuh catatan jilid menjadi satu
aku tak tahu apa yang ditulis disampingnya
entah kitabul fujjar ataukah kitabul abrar
duhai sang pemilik waktu
bukalah mata basirahku
agar tembus ke lauhinmahfudz
akan kujaga daun usia yang tersisa
takkan kukotori lagi
dengan debu dunia
yang penipu

oleh:
M. Rifai Al Mandari

1 syawal 1428 H

Akhirnya setelah lama aku maju mundur untuk memasuki dunia tulis menulis maka mulai hari ini aku resmikan bahwa aku telah melangkah masuk ke dunia ini, dunia yang mengekspresikan isi kepala dengan tulisan, sekedar pengen tau aja apakah di hari-hariku selanjutnya aku mampu untuk selalu lebih baik, karena tujuanku menulis adalah agar aku mampu mencatat apa yang aku dapatkan perharinya dan di 1 syawal 1428, 1429, 1430H... nanti aku akan meliahat apakah diriku semakin berharga dengan ilmu atau malah menjadi orang yang merugi karena menyia nyiakan modal utamaku yaitu waktu
Yang menimbulkan rasa takutku untuk menulis dahulu adalah padaku ada rasa takut ketahuan oleh siapapun, aku takut orang lain mengetahui isi hatiku, isi kepalaku, aku tidak pernah menghargai tulisanku sebagai sebuah karya, pikirku tulisan adalah bukan sebuah karya karena semua yang bisa baca tulis yach... pasti bisa nulis, tulisan hanyalah sebuah ekspresi kata yang tak terlantunkan dengan berbagai macam alasannya, saat itu aku tidak pernah memandang sisi baiknya sebuah tulisan, hemmm... baru setelah di usiaku 21 ini saat lingkungan menuntutku barulah aku memulai menggerakkan jemariku diatas key board.
Aku ingin menggali potensi diri karena ngeri saat aku teringat kembali dengan cerita "kutu anjing" begini ceritanya:
'Dahulu hiduplah seekor kutu anjing di sela sela bulu anjing:D, kutu anjing tersebut mempunyai kelebihan yang unik yaitu dia mampu melompat 300 kali lebih tinggi dari badannya bayangkan saja kalo diukur dengan manusia yang kalo saya pribadi hanya mampu melompat 1/2 dari badan saya, lompatan yang di maksud adalah lompatan yang manual tanpa alat bantu.
'Suatu hari sang kutu anjing tersebut tertangkap oleh seorang anak kecil yang memenjarakannya di sebuah kotak korek api, sang kutu anjing tak peduli dia tetap asyik melompat meski terhalang oleh dinding dinding korek api yang sempit, hingga suatu saat sang kutu anjing terbebas dan menikmati kembali alam luas jagad raya ini, tapi yang terjadi sang kutu anjing kehilangan keunikannya, tanpa dia sadari dia tak mampu lagi melompat 300 kali lebih tinggi dari badannya iya hanya mampu melompat setinggi kotak korek api yang telah memenjarakannya dan sang kutu anjing belum juga menyadari.
'Dia telah dirubah oleh lingkungannya, kotak korek api yang sempit itu, kemampuannya telah tertelan olehnya, dan aku tidak mau seperti itu. TAMAT