Akhirnya hari itu datang juga, dengan setengah hati aku penuhi undangannya, meskipun harus melawan kata hatiku, minimal kutenangkan hatiku dengan mantra "jangan manja", kuhadapi pertemuan dengannya dengan pura-pura grogi, karena aku sama sekali tidak grogi, padahal sewajarnya jika seseorang menghadapi pertemuan seperti itu memang sepantasnya harus grogi, bagaiman aku harus grogi jika pertemuan ini sama sekali tidak aku sukai, karena tekhnisnya tidak seperti yang aku harapkan.
Akupun tidak bisa mengungkapkan apa yang seharusnya aku katakan kepadanya, aku malu, malu pada diriku sendiri, sebab aku selalu malu jika menemui diriku pasa posisi sangat egois, dan terkesan menyulitkan orang lain, dan aku tahu bahwa semua keinginanku itu pasti akan menyulitkannya.
Mungkin sebagian orang akan beranggapan bahwa aku tidak memikirkan kepentinganku sendiri, tapi yang kurasa justru sebaliknya, pada saat aku mendapatkan keinginanku dengan menyulitkan orang lain maka rasa tidak nyaman akan terus mengikutiku, dan aku sangat tidak suka berada pada posisi seperti ini, jadi akan lebih nyaman dengan membiarkan mewujudkan keinginannya.
Karena yang kutahu, Tuhanku tidak akan pernah menyia-nyiakan pengorbananku.
Yang sangat penting dan paling kuharapkan darinya hanya: "Semoga dia mampu menuntunku menemui Tuhannku" tuhan yang aku hidup karenaNya, tuhan yang karenaNya aku ringan melakukan segala coba.
No comments:
Post a Comment