Wednesday, October 24, 2007

Ketika ditanya "Siapkah anda menikah?"

Saat kita dihadapkan oleh pertanyaan seperti itu, kita hanya dihadapkan oleh dua jawaban yaitu 'iya' atau 'tidak(belum)', dengan berbagai macam alasan yang menguatkan jawaban kita.
Sebagai wanita merasa sangat risih untuk mengucap kata 'iya' adalah hal yang tidak pernah punah dari zaman dahulu sampai sekarang, jelas, karena rasa malu adalah tabiat asli seorang wanita, disebut asli karena kenyataannya ada juga wanita yang tidak sungkan mengatakan 'iya' dengan lugas beserta rasa pede yang 'wah'.
Sebagai Lelaki penuh pertimbangan dalam memutuskan untuk mengataka 'iya' adalah hal yang wajib dilakukan, betapa tidak, karena lelaki tersebut akan mengemban tugas yang berat dalam menghidupi keluarganya kelak, namun ada juga yang malah lepas tanggung jawab dan membiarkan keluarganya berjalan sendiri bahkan hancur ditelan kekecewaan.
Mengapa yang di tanyakan harus kesiapannya, kenapa tidak mengatakan "Maukah anda menikah?"
Mungkin karena pertanyaan "Siapkah anda menikah" telah mencakup rasa mau, tanpa mencakup rasa siap, karena kata 'Siap' memiliki pesan tersendiri bahwa menikah itu tidak mudah, butuh persiapan, lahir maupun bathin, moril maupun materi, kalo masalah mau, itu sudah sewajarnya, karena menikah adalah salah satu kebutuhan manusia.
Usia bukan harga mati,
pernikahan dinipun laris
Situasi bukan alasan,
tidak sedikit yang melejit setelah menikah
Ekonomi bukan harga mati,
orang kayapun cerai
Orang tua bukan penghalang,
jika kita mampu meyakinkan bahwa kita siap menikah
Karena hidup itu pilihan, benar benar pilihan...
kita bisa memilih apakah kita mau jadi pecundang atau penuh tanggung jawab
kita bisa memilih apakah kita ingin berhasil atau tidak
karena masing-masing punya kekuatan
karena masing-masing punya keinginan
karena hidup benar benar pilihan, iya pilihan
Sepakat???
jadi...
"Siapkan anda menikah?"

No comments: